Minggu, 19 Mei 2013

Ane mau share nih cerpen yang tmen ane buat berdasarkan kisah nya ..,


 

ICH EIGENWILLIG DENN ICH WARTE



Hasil cetakan photonya ditunggu ya Mbak  satu jam.” Ucap seorang kasir sambil menyodorkan struk tanda bukti pembayaran.
“iya Mbak..Terimakasih.” ucapku sambil mengangguk dan tersenyum kecut.
“lama amat satu jam, amat aja ngga lama-lama.” Gerutuku dalam hati. Tiba-tiba dari kejauhan aku melihat sosok yang pernah aku kenal sebelumnya “Nura..” ucapku pelan, dia teman semasa SMP, tidak lama kemudian muncul seorang pemuda berjalan bersamaan dengan Nura.
“Nura…Nura…” teriakku berulang-ulang sampai akhirnya  ia berbalik melihatku.
“haii…Nayha,?” teriak Nura keras memanggil namaku sambil berlari menghampiriku dan meninggalkan seorang pemuda yang bersamanya. Dengan spontan aku langsung menyerbunya dengan pelukan untuk melepas semua kerinduan.
“bagaimana kabarmu Nay,?” tanya Nura duluan.
“Alhamdulillah aku baik, kamu sendiri gimana,?”
“syukurlah aku juga baik, akhirnya kita bisa bertemu lagi.”
“iya, aku juga ngga sangka bisa ketemu lagi, duuuh Nur kamu makin terlihat dewasa dehh.” Ucapku sedikit memuji melihat penampilannya yang terlihat dewasa, berbeda dengan aku yang mungkin masih terlihat kekanak-kanakan, yang alam bahasa jermannya “kindisch”, polos tanpa polasan apapun.
“haha msa,?”senyum nya mengembang “eeeh kamu sedang apa disini sendirian Nay,?”
 “aku lagi nunggu hasil cetakan photo, kamu sendiri lagi ngapain,? Cie..cie…ma pacarnya niyee,?”
“ouh, aku lagi cari batik, haha pacar,? Bukan kalii….dia teman aku. Yaudah Nay aku duluan ya,?”
“ouh, iya-iya silahkan.”
“yaps see you next time.” Ucap Nura sambil melambaikan tangan
“okeh, see you next time friend.” Jawabku sambil melambaikan tangan pula. Aku terus memandangi pemuda itu dari kejauhan, badannya sedang, tak gemuk dan tak kurus, tetapi tegap. “ayooooolah…berbalik-berbalik.” Gerutuku dalam hati sampai  kemudian ia berbalik meskipun tak menatapku. Wajahnya terlihat jernih dan tenang, terbayang ia seorang yang lurus, simple dan juga apa adanya. “aneh…rasanya aku tak asing dengannya.” Gerutuku lagi dalam hati.
Belum satu jam berlalu tapi aku sudah merasa jenuh, “huphhh…” aku menghela nafas.
“Mbak Naya.” Ucap seorang kasir memanggilku setelah satu jam berlaluj “ini Mbak hasilnya.” Ucapnya lagi membuat nafasku sedikit lega.
“oh ia, Terimakasih Mbak.” Ucapku sambil berlalu.
Sesampai dirumah aku langsung tersandar lemas diatas kasur mungilku sambil menatap dalam photo aku dengan sang kekasih yang baru saja aku cetak. Rasanya baru kemarin aku mengecap kebahagiaan bersamanya, meskipn sebenarna lebih banyak dukanya daripada kebahagianya. Dan sekarang dia mulai berubah lagi, dia sudah jarang sekali memberi aku kabar, apalagi perhatian L.
“Karan, kau dimana,? Bukankah kau kekasihku, tapi kenapa kau tak pernah ada buat aku, tak pernah bisa mengerti aku, apa aku harus menunggu,? Sedangkan kau tak pernah mau menjemputku. Apakah aku arus menyayangimu,? Sedangkan kau semakin menghilang dari hidupku.” Saat ini pengobat rasa kesepianku tiada lain hanya Facebook, disana aku bisa membaca berbagai kata-kata motivasi hidup yang bisa menguatkan hatiku. Secepatnya aku Log in, kulihat berates-ratus permintaan pertemanan yang belum aku konfirmasi, “Arik Jazimaulana,?” hatiku tersentak membaca nama profilnya, dengan cepat aku membuka profilnya, saat aku buka photo-photo profilnya, aku melongo dan ternyata “dia,? Ucapku dalam hati bergetir perih tercampur bahagia, tanpa fikir panjang aku mengkonfirmasi dan mengirim pesan padanya.
“Maaf kalo ngga salah ini Arik jazimaulana alumni SMP Candikia’kan,?” aku terus menunggu, berharap ia cepat-cepat membalas pesanku, tidak lama kemudian harapan ku terkabul, Facebooknya On.
“ia aku Arik jazimaulana alumni SMP Candikia, kenal gitu,?” balasnya membuat aku tersenyum bahagia.
“haha ia kenal dong, temannya Fazri, Jurdi, Fizi ma Susanti-kan,?”
“ia J haha, kirain ngga tahu, kamu Nayha kelas B-kan,?”
“haha tahu dong, tapi dilihat-lihat pada beda ya,? Ia aku Nayha kelas B, ko kamu tahu,?” tanyaku heran, karena semasa smp kita ngga saling kenal, aku juga sebenarnya diam-diam mengenalnya setelah pertama kali aku jumpa dia waktu bersama Susanti, teman semasa aku SD.
“haha beda apanya,? Taulah kelas kita dulukan ngga jauh J
“ia beda aja, sekarang udah pada terlihat dewasa, ouh gitu. Arik Sekolah dimana,?”
“haha emang dulu ngga terlihat dewasa gitu,? aku di SMA Achta, sekelas sama Nura.”
Aku tercengang setelah Arik bilang dia satu kelas dengan Nura, padahal baru saja tadi pagi aku bertemu Nura, aku terus berfikir mencoba mengingat seorang pemuda yang bersama Nura, tapi tetap saja aku tidak bisa mengingat wajahnya “apa mungkin pemuda itu Arik,?” tanyaku dalam hati.
“ia kalau dulu emang ngga terlihat dewasa tuu, malah dulu kelihatannya lucu culun-culun..ha..ha.. ouh sekelas sam Nura,? Baru ja tadi pagi aku jumpa ma dia, pa mungkin pemuda yang tadi bersama Nura itu kamu,?” tanyaku penasaran.
“haha lucu sekarang dong,, liat sudah pada berkumis J. Bukan aku, itu kembaran aku kalii J
“kumis ko lucu, jelek tahu ntar mirip bapak-bapak, emang kamu punya kembaran,?”
“haha lucu kalii, dengan adanya kumis orang jadi terlihat lebih dewasa..ha..ha. nggalah, yang tadi sama Nura mang benar itu aku, masa ngga kenal,?”
“ia dahhh pendapat orang-kan beda-beda, hah,..? jadi benar kamu,? Serius aku ngga kenal, malah aku lupa lagi ma orang yang tadi sama Nura.”
“ia juga siii… eumppp ko bisa,?”
“ia ngga tahu orang aku juga lihatnya dari kejauhan J.”
“ouhh, eeh ia kamu mau lanjutin ke Univ mana,?”
“i.alloh aku mau coba ke UNSUD, kalau kamu,?”
“ouh, i.alloh kalau aku mau coba ke IPB, ehh ia Nayha kalo ngga keberatan aku boleh minta No kamu ngga,?”
“ouh.. ia boleh-boleh, ini No aku 08987733444.”
“okeh Trims ya J
“yaps sama-sama J.” Dengan cepat aku langsung Log Out Facebook dan menunggu sms dari Arik, tak lama kemudian Hp-ku berdering.
“Arik, Save ya No ku J” aku tersenyum bahagia membaca pesannya
“ia siap..” balasku singkat.
 semenjak ada dirinya duniaku terasa indah kembali, semuanya yang tersimpan daridulu sekan terangkai kembali. Tepatnya malam minggu disaat aku bersandar  duduk santai seperti dipantai, tiba-tiba hp-ku berdering keras “Arik memanggil”
“Assalamua’laiku.”
“Waa’laikumsalam, Nay aku didepan.” Suara disebrang sana.
“didepan,? Maksud kamu apa,?” jawabku heran.
“aku mau main keumah kamu, ngga apa-apakan aku main kerumah kamu,? Sekarang aku sudah didepan jalan, tapi ngga tahu lagi harus masuk gang yang mana,?” balasnya membuat aku terkejut sekaligus bahagia.
“iya ngga apa-apa, ya sudah kamu tunggu disan jangan kemana-man,!” Aku berlari melesat keluar, tanpa memperdulikan kegelapan yang biasanya membuat aku takut. Sesampai didepan, dari kejauhan dibalik kegelapan aku melihat seorang anak muda tertunduk diatas motornya,”huphhh” aku menghela napas dan dengan perlahan aku menghampirinya “mudah-mudahan itu bukan hantu.” Gerutuku dalam hati. Saat tanganku hampir hinggap dibahunya ia berbalik dan menatap ku sambil tersenyum, hatiku lega ternyata dia memang Arik, bukan hantu ha..ha.. Diulurkan tangannya dan aku sambut uluran tangannya, kamipun berjabatan hanya beberapa detik.
“Kenpa ngga bilang-bilang mau kesini,?” ucapku memecah keheningan.
“iya maaf, aku habis dari rumah teman, jadi sekalian aja mampir kesini.”
“ouhhh…” ucapku sambil manggut-manggut “teman apa demen,?” gurauku sambil tertawa.
“serius temanlah, akukan lagi jomblo.” Ucapnya sambil tersenyum kalem.
“ouh iya..iya..ya sudah yooo ntar ngobrolnya dirumah.”
“dimana rumahnya,? Masih jauh ngga dari sini,?”
“tuuuh masuk gang yang ke-3, lumayan dekat ko.”
“gang nya kebnyakan, yang mana ngga kelihatan,?”
“beuuuh emang ngga bakalan kelihatan, orang gelap tak ada penerangan, aku ikut kamu aja dahh, ntar aku arain jalannya.” Ucapku sambil langsung menaiki motornya. Difikr-fikir ko aku lancang menaiki motornya, padahal Arik ngga nyuruh aku naik tu..ha..ha.
“Arahin jalannya,!”
“iya siap..” jawabku santai seakan sudah begitu sangat mengenalnya, pdahal baru pertama kalinya aku bicara langsung dengannya.
“silahkan masuk.” Ucapku sesampai depan rumah.
“ia, asslamua’laikum.”
“waa’laikumsalam, silahkan duduk, tunggu sebentar ya,!” ucapku sambil pergi kedapur membawakan segelas air putih.
“waduuuuh ngga usah repot-repot.” Ucapnya dengan senyum manisnya.
“ngga merasa direpotkan ko, santai aja.” Ucapku sambil mencoba menatapnya, teringat masalalu, dulu aku hanya diam-diam menatapnya dari kejauhan, kini dia tepat dihadapanku, tak pernah aku sangka sedikitpun, semua ini terasa bagaikan mimpi. Aneh tapi nyata.
“heeey….malah asiik senyum-senyum sendiri,? Ada yang aneh denganku,?” ucapnya membuat aku tersentak dari khayalan masalaluku. “nostalgia” ucapku dalam hati.
”eehhh ngga apa-apa ko.” Jawabku sambil tersenyum. Arik yang terus tertunduk asik memainkan  gantungan kunci motornya membuat aku berani terus melihatnya, tapi saat dia berbalik menatapku entah kenapa aku tidak kuasa melihat sorot matanya yang sayu sampai akhirnya aku yang malah tertunduk sambil tersenyum.
“kenpa senyum terus,? Ada yang aneh dengan muka aku,?” tanya Arik yang memergoki aku tersenyum saat menatapnya.
“emhhhh….”aku berdehem berfikir apa yang harus aku jawab, mana mungkin aku ceritakan yang sebenarnya bahwa aku………”tidak..tidak..tidak..dia tidak perlu tahu, bagaimanapun itu masalalu meskipun memang masih tersimpan tapi kini situasinya sudahlah jauh berbeda.” Gerutuku dalam hati.
“heuuump…ngga ada apa-apa ko, orang kamu juga ngapain ikut senyum-senyum.” Jawabku akhirnya mencoba mengelak.”huuu dasar aneh.”ucapku sambil menulurkan lidah.
“ya sudah-sudah sesama orang aneh jangan saling meledek.” Guraunya sambil tertawa.“ehhh iya, gimana hubungan kamu sama pacarmu,? Kenapa malam ini dia ngga datang,?”
“gimana-ya, baik-baik saja, Cuma sudah jarang komunikasi ja, dia emang ngga pernah maen malam-malam kesini, kalo datang juga ngga pernah lama.”
“kok bisa,? Kenapa gitu,?”
“tak tahulah.” Jawabku singkat
“ya sudah, have fun saja, mungkin dia sedang sibuk, positif thinking”
“ia pasti..positif thinking.” Ucapku menyemangati diri sendiri.
“tapi dia ngga bakalan marah kan aku main kesini,?”
“kenapa harus marah, kitakn teman,?” jawabku lirih, dalam hati kecilku rasanya perih mengatakan hal itu.
“ouh iya.gut..gut..gut..” ucapnya dalam bahasa jerman yang artinya (bagus..bagus..bagus..) “kitakan Cuma teman.” Ucapnya mengulang perkataanku membuat hatiku sedikit terguncang.
“ehhh difikir-fikir kita seperti teman lama yang baru bertemu kembali ya,?” ucapnya sambil tertawa ngakak.
“haha iya, padahal dari dulu kita belum pernah ngobrol bareng gini.” Ucap ku sambil tersenyum gembira.
Beberapa jam berlalu tanpa terasa, aku terus berbincang-bincang dengannya, tertawa, bercanda, seakan dunia milik bersama.
“Nay udah malam nii, aku pulang dulu ya?”
“pulang,?” aku melongo, “kenapa waktu ini terasa berlalu begitu cepat,?” tanyaku dalam hati.
“ngga apa-apakan aku pulang, jangan kangen sama aku ya.” Ucapnya PD sambil tersenyum.
“beuuuh PD-nya, iya-iya ngga apa-apa, tapi yakin berani pulang sendiri,?”
“udah biasa, aku berani ko.” Ucapnya bangga.
Kamipun berdiri kaku, ia menjulang dihadapanku, ia memandangku lagi dengan pandangan yang sayu membuat aku tertunduk lagi.
“ingat..!! jangan kangen sama aku..!!” guraunya lagi sambil tertawa.
“haha…iya-iya  ngga bakalan dahhh bawell.” Jawabku sambil menjulurkan lidah.
“TTDJ..”
“iya-iya..” ucapnya sambil menyalakan motor, ia’pun berbalik memandangku lagi “Assalamua’laikum.”
“waa’laikumsalam” jawabku sambil terus memihatnya sampai berlalu.
Semilir angin malam begitu menyejukan, aku tersenyum-senyum sendiri, senyumnya canda tawanya masih saja terlintas difikranku, rasanya aneh, kenapa Arik lebih memahami semua yang aku ingin dibandingkan kekasihku sendiri, raut wajahnya, senyumnya, terlihat ikhlas tak da sebuah keterpaksaan. Berbeda dengan karan, tak ada sedikitpun canda tawa, dan tak ada sedikitpun keikhlasan yang kulihat dimatanya. Hatiku ciut, berdesir perih “andai Kau kabulkan doa’ku sedari dulu, mungkin kebahagian akan terus terpancar diwajahku.” Ucapku dalam hati.  Tiba-tiba hp-ku berdering, pesan dari Arik. Aku langsung membukanya cepat-cepat.
“Trims untuk semuanya, kamu telah menemani hari-hariku begitu indah walaupun terasa cepat kita bertemu dan mungkin terasa cepat pula kita berpisah, tapi aku bahagia saat bersamamu. Danke J  Guten nacht, ich liebe dicht. (Terimakasih J selamat malam, aku cinta kamu.)”
Aku menghela nafas berat “iya sama-sama, seharusnya juga aku yang berterimakasih, karena kamu sudah mengembalikan duniaku lagi, apa ya ich liebe dich,?” tanyaku seolah-olah tak tahu “tapi ya sudahlah, yang aku tahu cuma Guten nacht J selamat malam juga Arik.” Balasku dengan butiran hangat yang membasahi pipiku, rasanya bergejolak hati ini saat ia katakan “ich liebe dicht” dan rasanya perih hati ini saat aku harus berpura-pura dan membohongi hati ini. Padahal sebenarnya dalam hati yang terdalam ingin aku katakana “ich ferner liebe dicht “, tapi mana mungkin.
 Aku terus mendalami hatiku, “ya Rob kenapa kau kembalikan perasaan yang telah lama terpendam ini, aku sadar Arik memang lieben erstes me(cinta pertamaku).” Ucap ku getir.
Sejak pertama aku melihat dia semas SMP aku rasakan ada cinta dalam hatiku, tapi meskipun begitu aku tak pernah berharap untuk milikinya, dulu dengan melihatnya saja sudah cukup menyejukan hatiku, tapi kini entah kenapa kuat hati ini merasa ingin memilikinya. Tak mungkin aku khianati kekasihku, meskipun ia sering khianatiku, tak mungkin aku balas dengan pengkhianatan pula. Tapi dengan apa yang aku rasa ini, bukankah ini juga pengkhianatan,?  “Ya Rob bolehkah aku mengadu,? Saat ini hatiku tak menentu, hati ini terpaut lagi pada cinta pertamaku, saat aku bersamanya aku tak kuasa menahan gejolak dalam diriku, meskipun hasrat hati selalu ku coba untuk kuhindari, tapi entah kenapa aku semakin menyayanginya, hati ini tak bisa aku dustai, bagaimana mungkin aku mencintainya lebih dari kekasihku, apakah ini adil ya Rob,? Engkau tentu lebih mengetahuinya, aku pasrah Ya-Rob, hanya pilihan-Mu yang akan aku terima dengan keikhlasan hati. Biarlah rasa ini kupendam dalam hati yang terdalam terkubur dengan semu kenangan dimasa silam. Tapi kumohon beri hamba-Mu ini petunjuk agar bisa memilih jalan menuju cahaya terang (Ridho-Mu).” Ucapku diatas sejadah merah sambil mengurai air mata dengan kegetiran mengharapkan ada jawaban untuk mengakhiri semua kegelisahan. Sampai akhirnya dengan  tegas aku putuskan untuk sendiri “ich wünschen eigenwillig,wartet graf kommt abruf me durch lieben dem tiefgefühlt, und ich hoffen dich dem erstes abruf me Arik.” (aku ingin sendiri, menunggu pangran datang menjemputku dengan cinta yang tulus, dan aku harap kamu yang pertama menjemputku Arik.)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar