ICH EIGENWILLIG DENN ICH WARTE
“Hasil cetakan photonya ditunggu ya
Mbak satu jam.” Ucap seorang
kasir sambil menyodorkan struk tanda bukti pembayaran.
“iya
Mbak..Terimakasih.” ucapku sambil mengangguk dan tersenyum kecut.
“lama
amat satu jam, amat aja ngga lama-lama.” Gerutuku dalam hati. Tiba-tiba dari
kejauhan aku melihat sosok yang pernah aku kenal sebelumnya “Nura..” ucapku
pelan, dia teman semasa SMP, tidak lama kemudian muncul seorang pemuda berjalan
bersamaan dengan Nura.
“Nura…Nura…”
teriakku berulang-ulang sampai akhirnya ia berbalik melihatku.
“haii…Nayha,?”
teriak Nura keras memanggil namaku sambil berlari menghampiriku dan
meninggalkan seorang pemuda yang bersamanya. Dengan spontan aku langsung
menyerbunya dengan pelukan untuk melepas semua kerinduan.
“bagaimana
kabarmu Nay,?” tanya Nura duluan.
“Alhamdulillah
aku baik, kamu sendiri gimana,?”
“syukurlah
aku juga baik, akhirnya kita bisa bertemu lagi.”
“iya,
aku juga ngga sangka bisa ketemu lagi, duuuh Nur kamu makin terlihat dewasa
dehh.” Ucapku sedikit memuji melihat penampilannya yang terlihat dewasa,
berbeda dengan aku yang mungkin masih terlihat kekanak-kanakan, yang alam
bahasa jermannya “kindisch”, polos
tanpa polasan apapun.
“haha
msa,?”senyum nya mengembang “eeeh kamu sedang apa disini sendirian Nay,?”
“aku lagi nunggu hasil cetakan photo, kamu
sendiri lagi ngapain,? Cie..cie…ma pacarnya niyee,?”
“ouh,
aku lagi cari batik, haha pacar,? Bukan kalii….dia teman aku. Yaudah Nay aku
duluan ya,?”
“ouh,
iya-iya silahkan.”
“yaps
see you next time.” Ucap Nura sambil melambaikan tangan
“okeh,
see you next time friend.” Jawabku sambil melambaikan tangan pula. Aku terus
memandangi pemuda itu dari kejauhan, badannya sedang, tak gemuk dan tak kurus,
tetapi tegap. “ayooooolah…berbalik-berbalik.” Gerutuku dalam hati sampai kemudian ia berbalik meskipun tak menatapku.
Wajahnya terlihat jernih dan tenang, terbayang ia seorang yang lurus, simple
dan juga apa adanya. “aneh…rasanya aku tak asing dengannya.” Gerutuku lagi
dalam hati.
Belum
satu jam berlalu tapi aku sudah merasa jenuh, “huphhh…” aku menghela nafas.
“Mbak
Naya.” Ucap seorang kasir memanggilku setelah satu jam berlaluj “ini Mbak
hasilnya.” Ucapnya lagi membuat nafasku sedikit lega.
“oh ia,
Terimakasih Mbak.” Ucapku sambil berlalu.
Sesampai dirumah aku
langsung tersandar lemas diatas kasur mungilku sambil menatap dalam photo aku
dengan sang kekasih yang baru saja aku cetak. Rasanya baru kemarin aku mengecap
kebahagiaan bersamanya, meskipn sebenarna lebih banyak dukanya daripada
kebahagianya. Dan sekarang dia mulai berubah lagi, dia sudah jarang sekali
memberi aku kabar, apalagi perhatian L.
“Karan, kau dimana,?
Bukankah kau kekasihku, tapi kenapa kau tak pernah ada buat aku, tak pernah
bisa mengerti aku, apa aku harus menunggu,? Sedangkan kau tak pernah mau
menjemputku. Apakah aku arus menyayangimu,? Sedangkan kau semakin menghilang
dari hidupku.” Saat ini pengobat rasa kesepianku tiada lain hanya Facebook,
disana aku bisa membaca berbagai kata-kata motivasi hidup yang bisa menguatkan
hatiku. Secepatnya aku Log in, kulihat berates-ratus permintaan pertemanan yang
belum aku konfirmasi, “Arik Jazimaulana,?” hatiku tersentak membaca nama
profilnya, dengan cepat aku membuka profilnya, saat aku buka photo-photo
profilnya, aku melongo dan ternyata “dia,? Ucapku dalam hati bergetir perih
tercampur bahagia, tanpa fikir panjang aku mengkonfirmasi dan mengirim pesan
padanya.
“Maaf
kalo ngga salah ini Arik jazimaulana alumni SMP Candikia’kan,?” aku terus
menunggu, berharap ia cepat-cepat membalas pesanku, tidak lama kemudian harapan
ku terkabul, Facebooknya On.
“ia aku
Arik jazimaulana alumni SMP Candikia, kenal gitu,?” balasnya membuat aku
tersenyum bahagia.
“haha
ia kenal dong, temannya Fazri, Jurdi, Fizi ma Susanti-kan,?”
“ia J
haha, kirain ngga tahu, kamu Nayha kelas B-kan,?”
“haha
tahu dong, tapi dilihat-lihat pada beda ya,? Ia aku Nayha kelas B, ko kamu
tahu,?” tanyaku heran, karena semasa smp kita ngga saling kenal, aku juga
sebenarnya diam-diam mengenalnya setelah pertama kali aku jumpa dia waktu
bersama Susanti, teman semasa aku SD.
“haha
beda apanya,? Taulah kelas kita dulukan ngga jauh J”
“ia
beda aja, sekarang udah pada terlihat dewasa, ouh gitu. Arik Sekolah dimana,?”
“haha
emang dulu ngga terlihat dewasa gitu,? aku di SMA Achta, sekelas sama Nura.”
Aku tercengang setelah
Arik bilang dia satu kelas dengan Nura, padahal baru saja tadi pagi aku bertemu
Nura, aku terus berfikir mencoba mengingat seorang pemuda yang bersama Nura,
tapi tetap saja aku tidak bisa mengingat wajahnya “apa mungkin pemuda itu
Arik,?” tanyaku dalam hati.
“ia kalau
dulu emang ngga terlihat dewasa tuu, malah dulu kelihatannya lucu
culun-culun..ha..ha.. ouh sekelas sam Nura,? Baru ja tadi pagi aku jumpa ma
dia, pa mungkin pemuda yang tadi bersama Nura itu kamu,?” tanyaku penasaran.
“haha
lucu sekarang dong,, liat sudah pada berkumis J. Bukan aku, itu kembaran aku kalii J”
“kumis
ko lucu, jelek tahu ntar mirip bapak-bapak, emang kamu punya kembaran,?”
“haha
lucu kalii, dengan adanya kumis orang jadi terlihat lebih dewasa..ha..ha. nggalah,
yang tadi sama Nura mang benar itu aku, masa ngga kenal,?”
“ia
dahhh pendapat orang-kan beda-beda, hah,..? jadi benar kamu,? Serius aku ngga
kenal, malah aku lupa lagi ma orang yang tadi sama Nura.”
“ia
juga siii… eumppp ko bisa,?”
“ia
ngga tahu orang aku juga lihatnya dari kejauhan J.”
“ouhh, eeh
ia kamu mau lanjutin ke Univ mana,?”
“i.alloh
aku mau coba ke UNSUD, kalau kamu,?”
“ouh,
i.alloh kalau aku mau coba ke IPB, ehh ia Nayha kalo ngga keberatan aku boleh
minta No kamu ngga,?”
“ouh..
ia boleh-boleh, ini No aku 08987733444.”
“okeh
Trims ya J”
“yaps
sama-sama J.”
Dengan cepat aku langsung Log Out Facebook dan menunggu sms dari Arik, tak lama
kemudian Hp-ku berdering.
“Arik,
Save ya No ku J”
aku tersenyum bahagia membaca pesannya
“ia
siap..” balasku singkat.
semenjak ada dirinya duniaku terasa indah
kembali, semuanya yang tersimpan daridulu sekan terangkai kembali. Tepatnya
malam minggu disaat aku bersandar duduk
santai seperti dipantai, tiba-tiba hp-ku berdering keras “Arik memanggil”
“Assalamua’laiku.”
“Waa’laikumsalam,
Nay aku didepan.” Suara disebrang sana.
“didepan,?
Maksud kamu apa,?” jawabku heran.
“aku
mau main keumah kamu, ngga apa-apakan aku main kerumah kamu,? Sekarang aku
sudah didepan jalan, tapi ngga tahu lagi harus masuk gang yang mana,?” balasnya
membuat aku terkejut sekaligus bahagia.
“iya
ngga apa-apa, ya sudah kamu tunggu disan jangan kemana-man,!” Aku berlari
melesat keluar, tanpa memperdulikan kegelapan yang biasanya membuat aku takut.
Sesampai didepan, dari kejauhan dibalik kegelapan aku melihat seorang anak muda
tertunduk diatas motornya,”huphhh” aku menghela napas dan dengan perlahan aku
menghampirinya “mudah-mudahan itu bukan hantu.” Gerutuku dalam hati. Saat
tanganku hampir hinggap dibahunya ia berbalik dan menatap ku sambil tersenyum,
hatiku lega ternyata dia memang Arik, bukan hantu ha..ha.. Diulurkan tangannya
dan aku sambut uluran tangannya, kamipun berjabatan hanya beberapa detik.
“Kenpa
ngga bilang-bilang mau kesini,?” ucapku memecah keheningan.
“iya
maaf, aku habis dari rumah teman, jadi sekalian aja mampir kesini.”
“ouhhh…”
ucapku sambil manggut-manggut “teman apa demen,?” gurauku sambil tertawa.
“serius
temanlah, akukan lagi jomblo.” Ucapnya sambil tersenyum kalem.
“ouh
iya..iya..ya sudah yooo ntar ngobrolnya dirumah.”
“dimana
rumahnya,? Masih jauh ngga dari sini,?”
“tuuuh
masuk gang yang ke-3, lumayan dekat ko.”
“gang
nya kebnyakan, yang mana ngga kelihatan,?”
“beuuuh
emang ngga bakalan kelihatan, orang gelap tak ada penerangan, aku ikut kamu aja
dahh, ntar aku arain jalannya.” Ucapku sambil langsung menaiki motornya.
Difikr-fikir ko aku lancang menaiki motornya, padahal Arik ngga nyuruh aku naik
tu..ha..ha.
“Arahin
jalannya,!”
“iya
siap..” jawabku santai seakan sudah begitu sangat mengenalnya, pdahal baru
pertama kalinya aku bicara langsung dengannya.
“silahkan
masuk.” Ucapku sesampai depan rumah.
“ia,
asslamua’laikum.”
“waa’laikumsalam,
silahkan duduk, tunggu sebentar ya,!” ucapku sambil pergi kedapur membawakan
segelas air putih.
“waduuuuh
ngga usah repot-repot.” Ucapnya dengan senyum manisnya.
“ngga merasa
direpotkan ko, santai aja.” Ucapku sambil mencoba menatapnya, teringat
masalalu, dulu aku hanya diam-diam menatapnya dari kejauhan, kini dia tepat
dihadapanku, tak pernah aku sangka sedikitpun, semua ini terasa bagaikan mimpi.
Aneh tapi nyata.
“heeey….malah
asiik senyum-senyum sendiri,? Ada yang aneh denganku,?” ucapnya membuat aku tersentak
dari khayalan masalaluku. “nostalgia” ucapku dalam hati.
”eehhh
ngga apa-apa ko.” Jawabku sambil tersenyum. Arik yang terus tertunduk asik
memainkan gantungan kunci motornya
membuat aku berani terus melihatnya, tapi saat dia berbalik menatapku entah
kenapa aku tidak kuasa melihat sorot matanya yang sayu sampai akhirnya aku yang
malah tertunduk sambil tersenyum.
“kenpa
senyum terus,? Ada yang aneh dengan muka aku,?” tanya Arik yang memergoki aku
tersenyum saat menatapnya.
“emhhhh….”aku
berdehem berfikir apa yang harus aku jawab, mana mungkin aku ceritakan yang
sebenarnya bahwa aku………”tidak..tidak..tidak..dia tidak perlu tahu, bagaimanapun
itu masalalu meskipun memang masih tersimpan tapi kini situasinya sudahlah jauh
berbeda.” Gerutuku dalam hati.
“heuuump…ngga
ada apa-apa ko, orang kamu juga ngapain ikut senyum-senyum.” Jawabku akhirnya
mencoba mengelak.”huuu dasar aneh.”ucapku sambil menulurkan lidah.
“ya sudah-sudah
sesama orang aneh jangan saling meledek.” Guraunya sambil tertawa.“ehhh iya,
gimana hubungan kamu sama pacarmu,? Kenapa malam ini dia ngga datang,?”
“gimana-ya,
baik-baik saja, Cuma sudah jarang komunikasi ja, dia emang ngga pernah maen
malam-malam kesini, kalo datang juga ngga pernah lama.”
“kok
bisa,? Kenapa gitu,?”
“tak
tahulah.” Jawabku singkat
“ya
sudah, have fun saja, mungkin dia sedang sibuk, positif thinking”
“ia
pasti..positif thinking.” Ucapku menyemangati diri sendiri.
“tapi
dia ngga bakalan marah kan aku main kesini,?”
“kenapa
harus marah, kitakn teman,?” jawabku lirih, dalam hati kecilku rasanya perih
mengatakan hal itu.
“ouh
iya.gut..gut..gut..” ucapnya dalam bahasa jerman yang artinya
(bagus..bagus..bagus..) “kitakan Cuma teman.” Ucapnya mengulang perkataanku
membuat hatiku sedikit terguncang.
“ehhh
difikir-fikir kita seperti teman lama yang baru bertemu kembali ya,?” ucapnya
sambil tertawa ngakak.
“haha
iya, padahal dari dulu kita belum pernah ngobrol bareng gini.” Ucap ku sambil
tersenyum gembira.
Beberapa jam berlalu
tanpa terasa, aku terus berbincang-bincang dengannya, tertawa, bercanda, seakan
dunia milik bersama.
“Nay
udah malam nii, aku pulang dulu ya?”
“pulang,?”
aku melongo, “kenapa waktu ini terasa berlalu begitu cepat,?” tanyaku dalam
hati.
“ngga
apa-apakan aku pulang, jangan kangen sama aku ya.” Ucapnya PD sambil tersenyum.
“beuuuh
PD-nya, iya-iya ngga apa-apa, tapi yakin berani pulang sendiri,?”
“udah
biasa, aku berani ko.” Ucapnya bangga.
Kamipun
berdiri kaku, ia menjulang dihadapanku, ia memandangku lagi dengan pandangan
yang sayu membuat aku tertunduk lagi.
“ingat..!!
jangan kangen sama aku..!!” guraunya lagi sambil tertawa.
“haha…iya-iya ngga bakalan dahhh bawell.” Jawabku sambil
menjulurkan lidah.
“TTDJ..”
“iya-iya..”
ucapnya sambil menyalakan motor, ia’pun berbalik memandangku lagi
“Assalamua’laikum.”
“waa’laikumsalam”
jawabku sambil terus memihatnya sampai berlalu.
Semilir angin malam
begitu menyejukan, aku tersenyum-senyum sendiri, senyumnya canda tawanya masih
saja terlintas difikranku, rasanya aneh, kenapa Arik lebih memahami semua yang
aku ingin dibandingkan kekasihku sendiri, raut wajahnya, senyumnya, terlihat
ikhlas tak da sebuah keterpaksaan. Berbeda dengan karan, tak ada sedikitpun
canda tawa, dan tak ada sedikitpun keikhlasan yang kulihat dimatanya. Hatiku
ciut, berdesir perih “andai Kau kabulkan doa’ku sedari dulu, mungkin kebahagian
akan terus terpancar diwajahku.” Ucapku dalam hati. Tiba-tiba hp-ku berdering, pesan dari Arik.
Aku langsung membukanya cepat-cepat.
“Trims
untuk semuanya, kamu telah menemani hari-hariku begitu indah walaupun terasa
cepat kita bertemu dan mungkin terasa cepat pula kita berpisah, tapi aku
bahagia saat bersamamu. Danke J Guten
nacht, ich liebe dicht. (Terimakasih J selamat malam, aku cinta kamu.)”
Aku menghela nafas berat
“iya sama-sama, seharusnya juga aku yang berterimakasih, karena kamu sudah
mengembalikan duniaku lagi, apa ya ich liebe dich,?” tanyaku seolah-olah tak
tahu “tapi ya sudahlah, yang aku tahu cuma Guten nacht J selamat malam juga
Arik.” Balasku dengan butiran hangat yang membasahi pipiku, rasanya bergejolak
hati ini saat ia katakan “ich liebe dicht” dan rasanya perih hati ini saat aku
harus berpura-pura dan membohongi hati ini. Padahal sebenarnya dalam hati yang
terdalam ingin aku katakana “ich ferner
liebe dicht “, tapi mana mungkin.
Aku terus mendalami hatiku, “ya Rob kenapa kau
kembalikan perasaan yang telah lama terpendam ini, aku sadar Arik memang lieben erstes me(cinta pertamaku).” Ucap
ku getir.
Sejak pertama aku melihat
dia semas SMP aku rasakan ada cinta dalam hatiku, tapi meskipun begitu aku tak
pernah berharap untuk milikinya, dulu dengan melihatnya saja sudah cukup
menyejukan hatiku, tapi kini entah kenapa kuat hati ini merasa ingin
memilikinya. Tak mungkin aku khianati kekasihku, meskipun ia sering khianatiku,
tak mungkin aku balas dengan pengkhianatan pula. Tapi dengan apa yang aku rasa
ini, bukankah ini juga pengkhianatan,? “Ya
Rob bolehkah aku mengadu,? Saat ini hatiku tak menentu, hati ini terpaut lagi
pada cinta pertamaku, saat aku bersamanya aku tak kuasa menahan gejolak dalam
diriku, meskipun hasrat hati selalu ku coba untuk kuhindari, tapi entah kenapa
aku semakin menyayanginya, hati ini tak bisa aku dustai, bagaimana mungkin aku
mencintainya lebih dari kekasihku, apakah ini adil ya Rob,? Engkau tentu lebih
mengetahuinya, aku pasrah Ya-Rob, hanya pilihan-Mu yang akan aku terima dengan
keikhlasan hati. Biarlah rasa ini kupendam dalam hati yang terdalam terkubur
dengan semu kenangan dimasa silam. Tapi kumohon beri hamba-Mu ini petunjuk agar
bisa memilih jalan menuju cahaya terang (Ridho-Mu).” Ucapku diatas sejadah
merah sambil mengurai air mata dengan kegetiran mengharapkan ada jawaban untuk
mengakhiri semua kegelisahan. Sampai akhirnya dengan tegas aku putuskan untuk sendiri “ich wünschen eigenwillig,wartet graf kommt
abruf me durch lieben dem tiefgefühlt, und ich hoffen dich dem erstes abruf me
Arik.” (aku ingin sendiri,
menunggu pangran datang menjemputku dengan cinta yang tulus, dan aku harap kamu
yang pertama menjemputku Arik.)
